TVRINews, Bandar Lampung
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung memprakirakan wilayah Provinsi Lampung mulai memasuki musim pancaroba pada Oktober hingga November 2026. Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari hingga Maret 2027.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor selama periode peralihan musim hingga puncak musim hujan.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudi Harianto, mengatakan awal musim hujan di setiap wilayah Lampung berlangsung secara bertahap.
Sejumlah wilayah di bagian barat Lampung, seperti Kabupaten Tanggamus, Pesisir Barat, dan Lampung Barat, telah lebih dahulu memasuki musim hujan sejak Oktober 2026.
Selanjutnya, pada awal November, musim hujan diprakirakan mulai meluas ke wilayah Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Mesuji, Way Kanan, Lampung Utara, dan Lampung Tengah.
Sementara itu, wilayah Bandar Lampung, Metro, Pesawaran, Pringsewu, sebagian Lampung Timur, dan Lampung Selatan diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir November hingga Desember 2026.
Rudi menjelaskan, selama masa pancaroba, masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah daratan, perlu mewaspadai potensi angin puting beliung.
“Adapun saat puncak musim hujan, warga yang tinggal di bantaran sungai serta kawasan pegunungan dan perbukitan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan tanah longsor,” kata Rudi, Jumat, 6 November 2026.
Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, mengimbau masyarakat melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi risiko bencana.
Masyarakat diminta bergotong royong membersihkan saluran air, selokan, dan drainase agar tidak tersumbat. Selain itu, kondisi atap rumah dan bagian bangunan lainnya juga perlu diperiksa untuk memastikan tetap kuat menghadapi potensi angin kencang.
Aswarodi juga mengingatkan masyarakat agar mengenali potensi bahaya di lingkungan tempat tinggal serta menyiapkan tas siaga bencana.
Tas siaga tersebut setidaknya berisi makanan siap saji dan pakaian, dengan ketentuan satu tas untuk setiap anggota keluarga.
Melalui langkah antisipasi tersebut, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama selama masa peralihan musim dan puncak musim hujan di Lampung.










