TVRINews, Lampung
Helikopter water bombing dikerahkan untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Selasa, 25 Agustus 2026.
Helikopter yang didatangkan dari Sumatera Selatan tersebut menyasar salah satu titik kebakaran di Desa Braja Luhur, Kecamatan Braja Selebah. Lokasi itu sebelumnya dilaporkan mengalami kebakaran baru dengan luas terdampak sekitar 100,7 hektare.
Pengerahan water bombing dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto meminta titik kebakaran tersebut segera ditangani dalam konferensi video bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Lampung pada Senin, 24 Agustus 2026.
Dari udara, helikopter mengambil air dari sungai yang berada tidak jauh dari lokasi kebakaran. Air kemudian dijatuhkan ke kawasan yang menjadi sasaran pemadaman.
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan water bombing dilakukan untuk menurunkan suhu di kawasan yang masih berpotensi menyimpan bara.
"Water bombing kita laksanakan untuk menyirami titik-titik hotspot sehingga suhu tanah bisa turun dan mencegah bara kembali menjadi api," ujar Kristomei, Selasa, 25 Agustus 2026.
Hotspot Dipetakan Sebelum Pemadaman dari Udara
Pemadaman dari udara dilakukan setelah tim lebih dahulu memetakan lokasi yang masih memiliki potensi panas menggunakan drone surveillance.
Drone tersebut digunakan untuk mendeteksi perbedaan suhu di permukaan tanah. Area dengan suhu lebih tinggi menjadi perhatian karena dapat mengindikasikan masih adanya bara.
"Masih ada titik-titik yang memungkinkan karena suhunya berbeda dengan suhu tanah sebenarnya, dia masih kuning atau merah. Nah, itu yang harus kita waspadai," kata Kristomei.
Setelah lokasi teridentifikasi, pemadaman dilakukan dengan mengombinasikan water bombing dari udara dan penanganan langsung oleh personel di darat.
Selain helikopter, TNI juga menerjunkan Tim Alfa dari Mabes TNI ke kawasan TNWK. Sebanyak 40 personel dari tiga matra dikerahkan untuk menjangkau area yang sulit diakses melalui jalur darat.
Para personel membawa perlengkapan pemadam dan bergerak menyisir kawasan berdasarkan titik yang sebelumnya dipetakan menggunakan drone surveillance.
"Dia terjun sambil membawa alat pemadam kebakaran. Begitu dia turun, langsung bergerak menyisir mana-mana kira-kira titik-titik api yang masih ada berapi untuk dipadamkan supaya tidak berkembang menjadi api lagi," ujar Kristomei.
Penanganan dari darat juga diperkuat dengan drone penyemprot yang dapat membawa air dalam beberapa kapasitas. Peralatan tersebut digunakan untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi petugas dengan berjalan kaki.
Menurut Kristomei, seluruh metode pemadaman diarahkan untuk mencegah hotspot kembali berkembang menjadi kebakaran.
"Harapannya jangan ada lagi tambahan-tambahan atau timbul lagi hotspot atau titik-titik api baru," katanya.
Pengerahan water bombing dan Tim Alfa menjadi bagian dari upaya percepatan pemadaman karhutla di TNWK setelah Presiden Prabowo meminta penanganan dilakukan secepat mungkin.
Operasi dilakukan dari udara dan darat untuk memastikan titik panas yang tersisa segera didinginkan serta mencegah munculnya kebakaran baru di kawasan konservasi tersebut.










