TVRINews, Lampung
Pemerintah mulai menerapkan pendekatan baru dalam pengelolaan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, dengan mengedepankan kolaborasi lintas sektor. Melalui semangat “TNWK Adalah Kita”, pelestarian kawasan konservasi tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab pengelola taman nasional, tetapi juga melibatkan masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan.
Gagasan tersebut disampaikan Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden Kementerian Sekretariat Negara RI, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, saat melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Way Kambas. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Ketua Tim Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra Brigjen TNI Sriyanto serta Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi.
Rangkaian kunjungan diawali dengan diskusi yang membahas penguatan langkah mitigasi konflik antara Gajah Sumatra dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Menurut Dedi, keterlibatan seluruh elemen menjadi kunci untuk menciptakan keseimbangan antara upaya pelestarian satwa dan aktivitas masyarakat.
Ia menegaskan slogan “TNWK Adalah Kita” merupakan simbol perubahan cara pandang dalam pengelolaan kawasan konservasi. Masyarakat sekitar tidak lagi diposisikan sebagai pihak di luar kawasan, melainkan sebagai mitra yang memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian Way Kambas.
“Keberhasilan konservasi tidak mungkin hanya dilakukan oleh Balai Taman Nasional Way Kambas. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, TNI, Polri, pemerintah daerah, perguruan tinggi, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal,” ujar Dedi kutip Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat upaya mitigasi konflik satwa liar sehingga keberadaan Gajah Sumatra tetap terjaga tanpa mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar kawasan.
Dedi menilai pelestarian Way Kambas merupakan tanggung jawab bersama lintas generasi. Karena itu, seluruh pihak perlu memastikan kawasan konservasi tersebut tetap lestari agar Gajah Sumatra dapat terus hidup di habitat alaminya.
Selain membahas konservasi, Dedi juga menyoroti pentingnya tata kelola pembangunan di kawasan TNWK. Ia meminta seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan agar hasilnya sesuai dengan perencanaan.
“Komitmen harus menjaga kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang sudah disampaikan sehingga menghasilkan output yang memang sesuai dengan yang direncanakan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan yang melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, dan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, pengelolaan anggaran harus dilakukan secara transparan dan akuntabel, termasuk dalam proses pengadaan barang dan jasa agar seluruh program berjalan sesuai aturan.
Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, pemerintah berharap Taman Nasional Way Kambas tidak hanya menjadi habitat utama Gajah Sumatra, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga warisan alam Indonesia.









