TVRINews, Lampung
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengingatkan mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) agar tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang beredar di ruang digital.
Menurut Kristomei, kemampuan memilah dan memverifikasi informasi kini menjadi bagian dari aktualisasi bela negara. Perkembangan teknologi membuat ruang digital memiliki pengaruh besar terhadap kondisi sosial dan ketahanan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Kristomei saat memberikan pembekalan bertajuk “Bela Negara Zaman Now” dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unila 2026 di Gedung Serba Guna Unila.
Pembekalan diikuti 9.450 mahasiswa baru. Sebanyak 4.000 mahasiswa mengikuti kegiatan secara tatap muka, sedangkan 5.450 mahasiswa lainnya mengikuti secara daring.
Kristomei mengatakan pemahaman mengenai bela negara harus mengikuti perkembangan zaman. Bela negara, menurutnya, tidak lagi hanya berkaitan dengan senjata, tentara, maupun peperangan secara fisik.
“Bela negara zaman sekarang bukan lagi semata-mata tentang senapan dan tank. Medan perjuangan telah berubah. Perang informasi kini berada dalam genggaman kita melalui telepon seluler,” jelas Kristomei.
Ia meminta mahasiswa bersikap kritis ketika menerima informasi, terutama yang beredar melalui media sosial. Informasi yang ramai diperbincangkan tidak boleh langsung dipercaya ataupun disebarluaskan tanpa pemeriksaan.
Menurut Kristomei, mahasiswa perlu membaca informasi secara menyeluruh, memeriksa sumber, bertanya, dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan. Langkah tersebut penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan disinformasi.
Selain kewaspadaan di ruang digital, Kristomei mengingatkan mahasiswa mengenai lima nilai dasar bela negara, yakni cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila, rela berkorban, serta memiliki kemampuan awal bela negara.
Ia menegaskan bela negara bukan hanya menjadi tanggung jawab TNI atau aparat negara. Setiap warga negara dapat menjalankannya melalui profesi dan keahlian masing-masing.
“Apapun pekerjaan dan keahlian kita, selama memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara, itu merupakan bagian dari bela negara,” tegasnya.
Kristomei juga mendorong mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya dan menyampaikan gagasan yang bermanfaat.
Menurutnya, ruang digital tidak semestinya hanya digunakan sebagai tempat menerima informasi, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun komunikasi dan memperkuat persatuan.
Pembekalan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa baru untuk memahami bahwa bela negara dapat diwujudkan melalui tindakan sehari-hari, termasuk bersikap kritis, bertanggung jawab, dan bijak dalam menggunakan ruang digital.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor Unila Lusmelia Afriani Dea, jajaran Wakil Rektor Unila, serta Asintel Kasdam XXI/Radin Inten Kolonel Inf Erwin A.T. Wiyono, A.










