TVRINews, Lampung
Ketegangan masih dirasakan warga Kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh, Kabupaten Lampung Barat, setelah kawanan gajah liar terus berada di sekitar permukiman selama 15 hari terakhir.
Sebanyak 18 ekor gajah liar dilaporkan keluar dari kawasan hutan dan bertahan di wilayah Hutan Marga. Satwa tersebut diduga mengalami kekurangan sumber makanan di habitatnya sehingga mulai memasuki area permukiman warga.
Pergerakan kawanan gajah terus berpindah-pindah. Setelah sebelumnya terlihat di Pekon Gunung Ratu dan Bumi Hantatai, kini kawanan gajah dilaporkan menyeberangi jalan raya dan berkumpul di sekitar kawasan Danau Lebar.
Pembina Satgas Sahabat Satwa Lembah Suoh, Sugeng Hari Kinaryo Adi, mengatakan kondisi kawanan gajah saat ini cukup mengkhawatirkan karena diduga mengalami kelaparan di dalam kawasan hutan.
“Diduga sumber makanan di habitatnya berkurang sehingga gajah mulai turun ke wilayah permukiman,”ujar Sugeng.
Dalam dua malam terakhir, sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat amukan gajah. Tidak hanya itu, Kantor Resort Suoh milik Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) juga mengalami kerusakan setelah diserang kawanan gajah.
Warga bersama satgas sebenarnya telah berupaya melakukan penghalauan dan blokade agar gajah kembali masuk ke kawasan hutan. Namun upaya tersebut sementara dihentikan karena keterbatasan personel dan tingginya risiko keselamatan.
Sebagian besar anggota satgas diketahui merupakan petani kopi yang saat ini sedang memasuki masa panen sehingga keterlibatan mereka dalam proses penggiringan menjadi terbatas.
“Beberapa anggota satgas bahkan sempat dikejar gajah saat melakukan penghalauan,”jelasnya.
Untuk menghindari konflik langsung, warga memilih membiarkan beberapa tanaman seperti pohon pisang dimakan gajah. Saat ini, satgas dan warga hanya melakukan ronda malam guna mencegah kawanan gajah masuk lebih jauh ke permukiman.
Kawasan Danau Lebar kini dijadikan area isolasi sementara agar kawanan gajah tidak bergerak menuju wilayah rawa yang sulit dijangkau.
Warga di sekitar lokasi diminta meningkatkan kewaspadaan dan rutin melakukan patroli malam secara bergantian.
Masyarakat Suoh mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung dan Balai Besar TNBBS segera turun tangan melakukan penggiringan terpadu agar konflik antara manusia dan satwa liar tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.










