TVRINews, Lampung Timur
Upaya pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus dilakukan secara berlapis. Tim gabungan mengerahkan drone thermal, personel Tim Alpha lintas udara, water bombing, hingga drone penyemprot untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Langkah pemadaman diawali dengan pemetaan titik panas atau hotspot menggunakan drone thermal. Teknologi ini digunakan untuk mendeteksi perbedaan suhu, termasuk bara yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah dan berpotensi menimbulkan api kembali.
Setelah koordinat hotspot teridentifikasi secara presisi, sebanyak 40 personel Tim Alpha Mabes TNI diterjunkan menggunakan pesawat dengan parasut menuju lokasi titik panas. Sementara itu, 15 personel lainnya diterjunkan menggunakan helikopter sekaligus membawa peralatan pemadam. Setibanya di lokasi, personel menyisir kawasan dengan berjalan kaki untuk menemukan dan memadamkan bara api yang masih tersisa. Pemadaman kemudian diperkuat dengan water bombing atau penyiraman air dari udara untuk menurunkan suhu tanah dan mencegah munculnya kembali titik api.
Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan titik-titik yang masih memiliki suhu tinggi dapat segera ditangani.
“Dari pemantauan dan surveillance, kita masih menemukan titik-titik yang suhunya berbeda dengan suhu tanah sebenarnya. Itu yang harus kita waspadai,” ujar Kristomei, Rabu, 26 Agustus 2026.
Selain water bombing, tim gabungan juga mengoperasikan drone penyemprot dengan kapasitas 16 liter, 30 liter, hingga 100 liter. Drone tersebut digunakan untuk membasahi kawasan yang sulit dijangkau personel melalui jalur darat.
Menurut Kristomei, penggunaan drone penyemprot diharapkan dapat membantu mendinginkan suhu tanah sekaligus mencegah hotspot kembali menjadi bara api. Karhutla di kawasan TNWK terjadi dalam beberapa lokasi dan waktu berbeda. Pada 21 hingga 22 Agustus 2026, kebakaran berdampak pada sekitar 637 hektare di wilayah Desa Braja Harjosari. Selanjutnya, pada 23 hingga 24 Agustus, sekitar 123 hektare terdampak di wilayah Desa Braja Kencana dan Braja Luhur.
Pada 24 Agustus 2026, kebakaran juga terjadi di wilayah Rantau Jaya dengan luas terdampak sekitar 6,4 hektare. Secara keseluruhan, luas kawasan yang terbakar mencapai sekitar 800 hektare. Pemadaman dan pendinginan terus dilakukan untuk memastikan seluruh titik panas terkendali. Langkah ini sekaligus dilakukan untuk melindungi habitat satwa liar yang dilindungi di kawasan TNWK, termasuk gajah dan badak Sumatera.
Meski api telah berhasil dipadamkan, tim gabungan masih bersiaga dan melakukan pemantauan di sejumlah titik. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya hotspot baru dan memastikan karhutla tidak kembali meluas.
Tim gabungan berharap proses pendinginan dan pengawasan berkelanjutan dapat menjaga kawasan Taman Nasional Way Kambas tetap aman dari ancaman kebakaran susulan.










