TVRINews, Lampung Timur
Keprihatinan mendalam tengah dirasakan oleh warga Dusun I RT IV Desa Braja Dewa, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur. Hingga saat ini, masyarakat di lingkungan pemukiman tersebut belum menerima fasilitas listrik yang aman dan layak sebagaimana yang dirasakan oleh warga di desa-desa sekitar.
"Dari tahun 90-an berapa gitu, tiang listrik belum masuk, kabel-kabel ini inisatif dari warga RT kita sendiri," ujar Solihin kepada awak media, Selasa, 29 September 2026.
Kondisi ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar ini memicu kekecewaan warga setempat. Mereka merasa ditinggalkan dan dianaktirikan oleh pemerintah desa maupun pihak terkait, mengingat kebutuhan mendasar akan energi listrik belum kunjung terpenuhi secara optimal sejak puluhan tahun.
Dusun yang dikenal oleh warga lokal dengan sebutan wilayah Klampis Ireng ini mencatat sejarah panjang dalam memperjuangkan akses energi. Warga mengaku telah berjuang selama puluhan tahun agar aliran listrik resmi dan aman dapat masuk serta melayani pemukiman mereka.
Namun, upaya dan penantian panjang yang telah berlangsung berpuluh-puluh tahun tersebut hingga kini belum membuahkan hasil nyata. Fasilitas ketenagalistrikan yang tersedia di pemukiman mereka masih tergolong jauh dari kata layak dan sangat mengkhawatirkan.
Salah satu kendala utama yang dihadapi warga adalah belum tersedianya tiang listrik resmi dari penyedia layanan. Ketiadaan tiang penyangga yang standar memaksa warga memutar otak untuk menyalurkan arus listrik ke pemukiman mereka secara mandiri.
Demi mendapatkan daya listrik, warga terpaksa membuat sambungan kabel darurat yang dibentangkan dari rumah ke rumah. Sambungan alur kabel tersebut hanya disangga menggunakan tiang-tiang sederhana yang terbuat dari batang bambu.
"Kabel ini dulu iuran, saking kepinginnya hidup terang kan," ungkapnya.
Penggunaan tiang bambu dan sambungan kabel darurat tersebut bukan tanpa risiko keselamatan. Selain rentan roboh dan meliuk saat diterpa cuaca buruk, skema penyaluran ini sangat membahayakan keselamatan jiwa serta berpotensi memicu korsleting listrik.
"Ya berbahaya, tiang dari bambu itu ya mudah rapuh, terus kabel yang memakai pohon sebagai tiangnya ya khawatir roboh, kalau udah roboh ya mati listrik semua," terangnya.
Tak hanya persoalan bahaya fisik, kualitas arus listrik yang sampai ke rumah-rumah warga pun sangat tidak stabil dan bertegangan rendah. Hal ini kerap mengganggu operasional alat-alat elektronik rumah tangga serta membatasi aktivitas warga pada malam hari.
Rangkaian langkah berisiko tinggi tersebut terpaksa dilakukan oleh masyarakat semata-mata karena dorongan kuat untuk merasakan fasilitas hidup dasar yang setara. Mereka merindukan pemerataan pembangunan yang telah lama dinikmati oleh warga di wilayah lain.
Perwakilan warga, Sholihin, menegaskan bahwa ketimpangan layanan ini berdampak langsung pada kehidupan harian warga. Menurutnya, pemukiman tersebut dihuni oleh setidaknya 30 Kepala Keluarga (KK) yang semuanya mendambakan akses energi yang aman.
Lebih Lanjut, Ia mewakili puluhan KK terdampak, Sholihin menyampaikan harapan besar agar pihak pemerintah dan instansi berwenang dapat segera turun tangan memberikan solusi konkret.
"Kalau warga kepinginnya ada tiang listrik, terus arusnya normal," tandasnya.
Masyarakat Dusun I Desa Braja Dewa berharap aspirasi ini mendapat perhatian serius dan penanganan cepat dari pihak terkait. Pemenuhan fasilitas listrik yang layak dinilai menjadi kunci utama untuk meningkatkan taraf hidup, keamanan, dan kesejahteraan warga setempat.










