TVRINews, Lampung
Sebanyak 130 siswa SMP Islam Terpadu (IT) Baitul Muslim Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, mengalami gejala penyakit menular berupa demam, batuk, mual, tubuh lemas, hingga kehilangan nafsu makan. Kasus tersebut dilaporkan terjadi dalam kurun waktu empat hari, sejak 16 hingga 20 Oktober 2026.
Meningkatnya jumlah siswa yang mengalami gejala serupa membuat pihak sekolah memutuskan untuk memulangkan seluruh siswa yang mengikuti program boarding school atau sekolah berasrama. Aktivitas belajar mengajar secara tatap muka juga dihentikan sementara dan dialihkan ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

Kepala SMP IT Baitul Muslim Way Jepara, Pendi Dumyati, menjelaskan bahwa kasus tersebut awalnya hanya dialami oleh beberapa siswa. Pihak yayasan kemudian membawa siswa yang sakit ke puskesmas terdekat untuk menjalani pemeriksaan medis.
Namun, setelah diperbolehkan menjalani rawat jalan di asrama, sejumlah teman sekamar siswa tersebut mulai mengalami gejala serupa secara bergantian. Kondisi itu terus berkembang hingga jumlah siswa yang terdampak mencapai 130 orang.
Melihat peningkatan jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan, pihak sekolah akhirnya mengambil langkah pencegahan dengan memulangkan seluruh siswa asrama pada 20 Oktober 2026. Pendi mengatakan, pemulangan siswa dilakukan agar mereka dapat beristirahat bersama keluarga masing-masing hingga kondisi kesehatan kembali pulih.

(Foto: Kepala SMP IT Baitul Muslim Way Jepara, Pendi Dumyati)
“Kami berikhtiar, sekolah berikhtiar agar memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk istirahat. Istirahatnya tidak di sekolah, istirahatnya tidak di asrama, tapi istirahat bersama orang tua,” ujar Pendi dikutip Kamis, 22 Oktober 2026.
Ia berharap para siswa dapat kembali ke sekolah dan asrama dalam kondisi sehat serta memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik sehingga dapat mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasa. Menurut Pendi, para siswa dijadwalkan menjalani masa istirahat di rumah selama empat hari, mulai 21 hingga 24 Oktober 2026.
Sementara itu, hingga kini penyebab pasti penyakit yang menyerang para siswa tersebut belum diketahui. Belum ada kepastian mengenai jenis virus atau agen infeksi yang menyebabkan munculnya gejala secara beruntun di lingkungan sekolah berasrama tersebut.
Pihak yayasan saat ini berfokus melakukan pembersihan menyeluruh di lingkungan sekolah dan asrama sebagai upaya pencegahan penyebaran penyakit lebih lanjut. Penghentian sementara pembelajaran tatap muka dan pemulangan siswa diharapkan dapat membantu proses pemulihan sekaligus menekan risiko penularan di lingkungan sekolah.










