TVRINews, Lampung Selatan
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak terhadap aktivitas nelayan di pesisir Lampung Selatan. Hujan debu vulkanik membuat sebagian nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut selama dua hari.
Meski aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kini berangsur mereda, sejumlah nelayan mulai kembali melaut. Namun, mereka masih diliputi kekhawatiran, terutama ketika terjadi letusan kuat yang disertai semburan lava pijar. Bagi nelayan, melaut tetap harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meski kondisi di laut belum sepenuhnya aman.
Salah seorang nelayan, Tatang, mengatakan dirinya tetap memilih melaut karena pekerjaan tersebut merupakan satu-satunya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Mata pencaharian kita cuma di laut. Kalau kita menganggur saja, dari mana kita mau makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Tatang, Rabu, 9 September 2026.
Tatang mengaku masih merasa takut saat melaut di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, kondisi tersebut membuatnya tidak memiliki banyak pilihan.
“Saya sih takut, cuma mau bagaimana lagi. Kalau nelayan, hal seperti itu mungkin sudah biasa,” katanya.
Selain risiko erupsi, nelayan juga mengeluhkan kondisi perairan yang dinilai kotor akibat debu vulkanik. Kondisi tersebut disebut turut memengaruhi keberadaan ikan dan hasil tangkapan.
Menurut nelayan, hasil tangkapan dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan cukup tajam, bahkan disebut berkurang hingga sekitar 70 persen dibandingkan kondisi normal. Sebagian nelayan yang menggunakan perahu klotok dan ketinting bahkan mengaku tidak mendapatkan ikan sama sekali.
“Selama seminggu ini baru dua hari kayaknya kita dapat hasil. Selama dua hari itu tidak ada hasil sama sekali,” ungkap Tatang.
Minimnya hasil tangkapan membuat pendapatan nelayan ikut menurun. Di sisi lain, mereka tetap harus mengeluarkan biaya operasional untuk melaut, sehingga ketika tidak mendapatkan ikan, kerugian tetap harus ditanggung.
“Kalau tidak dapat hasil, ya rugi,” pungkasnya. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap pasokan ikan laut di wilayah Lampung Selatan. Berkurangnya aktivitas melaut menyebabkan pasokan ikan menurun, sementara kebutuhan masyarakat terhadap ikan tetap berjalan.
Sejumlah nelayan bahkan terpaksa berutang kepada juragan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama hasil tangkapan belum kembali normal. Nelayan berharap kondisi Gunung Anak Krakatau segera stabil sehingga aktivitas melaut dapat kembali berjalan normal dan hasil tangkapan kembali meningkat.










