TVRINews, Lampung
Kemarau panjang membuat debit air masuk atau inflow ke Bendungan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, terus menyusut. Kondisi ini menjadi yang terparah dalam sekitar 10 tahun terakhir dan berpotensi mengganggu pasokan air untuk kebutuhan pertanian.
Bendungan Way Jepara menjadi salah satu sumber air andalan masyarakat dan petani di tiga kecamatan. Bendungan dengan luas sekitar tiga kilometer persegi tersebut menopang kebutuhan irigasi untuk lebih dari 5.000 hektare lahan sawah.
Memasuki awal September 2026, debit air yang masuk ke bendungan bahkan tercatat kurang dari satu meter kubik per detik. Padahal, dalam kondisi normal, inflow Bendungan Way Jepara dapat mencapai sekitar 12 meter kubik per detik. Petugas Pintu Air Way Jepara, Sarno, mengatakan pasokan air berasal dari tiga anak sungai, yakni Sungai Jepara, Sungai Cejawi, dan Sungai Wehabar, serta limpahan air hujan dari wilayah hulu.

Namun, saat kemarau panjang, debit ketiga sungai tersebut ikut mengalami penurunan. Sungai Wehabar yang selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar inflow ke bendungan juga mengalami penyusutan debit.
“Karena inflow kita selalu berkurang. Dari tiga sungai yang kami punya, Sungai Jepara, Sungai Cejawi, dan Sungai Wehabar. Inflow terbesar kami dari Wehabar, tetapi sekarang juga kecil,” ujar Sarno, Rabu 2 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung hampir 10 tahun dan semakin parah. Selain faktor kemarau, berkurangnya kawasan sabuk hijau di wilayah hulu diduga turut memengaruhi ketersediaan air.
Kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai wilayah penghijauan dan daerah resapan air kini sebagian telah berubah menjadi lahan pertanian masyarakat. Padahal, keberadaan vegetasi di wilayah hulu berperan penting dalam menjaga cadangan air, terutama ketika curah hujan rendah.
Untuk menjaga ketersediaan air, petugas Bendungan Way Jepara terpaksa menutup pintu keluar air. Langkah tersebut dilakukan agar volume air yang tersisa dapat mencukupi kebutuhan pada musim tanam pertama atau musim rendeng.
Masa tanam tersebut dijadwalkan berlangsung mulai September hingga Desember 2026. Kondisi ini menjadi perhatian karena jika debit air terus menurun, pasokan untuk lahan pertanian di wilayah yang bergantung pada Bendungan Way Jepara berpotensi terganggu.
Petugas berharap pasokan air kembali meningkat seiring datangnya musim hujan sehingga kebutuhan irigasi masyarakat dan petani dapat tetap terpenuhi.









