TVRINews, Lampung
Memberantas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) tak lagi hanya soal menyiram air atau mengerahkan pasukan saat api sudah membumbung tinggi. Kunci utama memutus rantai pembakaran hutan justru ada pada isi piring dan kantong masyarakat desa penyangga.
Prinsip itulah yang kini dipegang teguh oleh Pemerintah Desa Labuhan Ratu IX, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur.
Kepala Desa Labuhan Ratu IX, Ermanita Permatasari, mengungkapkan bahwa menjaga kawasan konservasi tidak bisa dilepaskan dari penguatan ekonomi warga di sekitar hutan.
"Kalau kita bicara menjaga hutan, kuncinya kembali pada pemberdayaan ekonomi. Ketika masyarakat ekonominya kuat dan sibuk beraktivitas menghasilkan pendapatan, otomatis tidak akan berpikir aneh-aneh, apalagi merambah dan membakar hutan," ujar Erma, Kamis (10/9/2026).
Untuk menghentikan ketergantungan warga pada aktivitas merusak hutan, Desa Labuhan Ratu IX menyuntikkan berbagai alternatif mata pencaharian.
Desa ini memfasilitasi kelompok masyarakat (Pokmas), UMKM, hingga membentuk Koperasi Pelangi Biru Wirausaha yang mengusung konsep ekowisata pengamatan burung (birdwatching).
Strategi ini terbukti jitu, Erma mengatakan bahwa Desa Labuhan Ratu IX kini menjelma sebagai "Desa Ramah Burung".
Kelestarian pepohonan di Hutan Way Kambas yang terjaga membuat berbagai jenis burung liar hidup tenang dan mendatangkan wisatawan dari luar daerah. Dampak ekonominya dirasakan langsung oleh warga lokal, mulai dari profesi baru sebagai pemandu wisata (tour guide), produk olahan kuliner UMKM, hingga cinderamata.
"Karena hutan memberi manfaat langsung ke isi dompet, warga justru beramai-ramai menjaga hutan itu dari kebakaran," tambah Erma.
Pendekatan berbasis kesejahteraan ini mendapat apresiasi penuh dari Mabes TNI yang menerjunkan tim khusus pencegahan karhutla ke wilayah Lampung Timur.
Ketua Tim Satgas Karhutla Mabes TNI Wilaya Kabupaten Lampung Timur Laksamana Pertama (Laksma) TNI Bambang Dharmawan, menekankan bahwa aksi pembakaran hutan belakangan ini sering kali dipicu oleh pola pikir sempit beberapa oknum yang mencari keuntungan instan.
"Ada pemikiran terlalu pendek. Hutan dibakar oleh oknum pemburu liar supaya tumbuh tunas baru, lalu hewan-hewan berkumpul untuk makan dan mudah ditembak. Padahal itu kebiasaan destruktif. Kalau hutannya rusak, binatangnya habis, mereka sendiri yang akhirnya kehilangan mata pencaharian," tegasnya.
Ia menjelaskan, kedatangan ratusan personel hingga perwira tinggi TNI ke daerah bukanlah untuk menggurui warga, melainkan untuk berdiskusi dan mencari akar masalah agar bencana asap tidak terus berulang serta merugikan kesehatan hingga perekonomian nasional.
"Dampak kebakaran ini bukan cuma warga sekitar yang sesak napas atau terganggu ekonominya, tapi negara juga rugi bahkan diprotes negara tetangga. Model pemberdayaan seperti di Desa Labuhan Ratu IX ini yang harus kita tularkan ke desa-desa lain. Ketika ada timbal balik positif antara hutan dan perut masyarakat, hutan akan terjaga dengan sendirinya," pungkasnya.










